Panas Kepala Kami tanpa Dipayungi
Kebaikan Beliau
Saya bertempat di Jember. Tadi sahabat
aktivis PMII pergi untuk unjuk rasa di
gedung DPRD dan Kantor Bupati. Khususnya kami mengunjuk rasa tentang penolakan
RUU Pertanahan atau lebih terkenalnya Reformasi Agraria. Namun saya sendiri datang
terlambat untuk datang ke Gedung DPRD. Di gedung bupati kami meminta Faida
untuk keluar dan menghadap mahasiswa, sayang sekali beliau tidak keluar.
Skincare mahal pikiranku. Dalam hal ini kami hanya menuntuk keadilan rakyat
sekaligus orang tua kami. Karena mereka mencari materil dari tanah. Kami
dianggap anakis dengan robohnya pagar Istana Faida.
Kami
melakukan kebaikan dan menunggu kebaikan hati dari beliau pula. Beliau
tidak dapat hadir dan kami pun gusar dalam menyengatnya panas matahari.
Sebelumnya kami pun melakukan demo dan nihill hasilnya. Kesabaran memang tidak
ada batasnya namun harus dibatasi. Setelah itu kami membuat pagar tangan dan menerobos masuk. Media berkoar nantinya
dan akan lebih menyalahkan Mahasiswa dan tentunya pro pemerintah.
Biarlah
kami dianggap anarkis. Bapak, Ibu, dan tetangga menyalahkan kita dan menganggap
kita bersalah. Namun tetap saja mengikuti prinsipku. Semua hal yang terjadi
pada hal selanjutnya kami tidak akan pernah berhenti melanjutkannya. Mereka
hanya tidak tahu esensinya dari apa yang kami unjuk rasa kan. Media memengaruhi
pola pikir mereka dan mereka akan menolak juga ketika RUU direalisasikan. Salim
Kancil dan Tossan menunjukkan sedikit dari contoh dari perealisasian RUU
tersebut. Ini untukmu Bapak, Ibu, dan Tetangga serta semua rakyat Indonesia.
Biarlah kami dianggap pamer muka oleh teman kita, tidak mengetahui isi dan taqlid tanpa dasar. Kekuatan kami
dibutuhkan karena semakin banyak kuantitasnya akan lebih menakutkan pada tirani.
Lebih buruk mereka tidak mengetahui permasalahan negeri dan tidak mau ikut
memperjuangkan membenarkannya,
“Bunda relakan darah
juang kami. Padamu kami mengabdi”
(Mars PMII)
“Apabila usul ditolak
tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!.”
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!.”
(Widji Tukul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar