Selasa, 15 Oktober 2019


Panas Kepala Kami tanpa Dipayungi Kebaikan Beliau

Saya bertempat di Jember. Tadi sahabat  aktivis PMII pergi untuk unjuk rasa di gedung DPRD dan Kantor Bupati. Khususnya kami mengunjuk rasa tentang penolakan RUU Pertanahan atau lebih terkenalnya Reformasi Agraria. Namun saya sendiri datang terlambat untuk datang ke Gedung DPRD. Di gedung bupati kami meminta Faida untuk keluar dan menghadap mahasiswa, sayang sekali beliau tidak keluar. Skincare mahal pikiranku. Dalam hal ini kami hanya menuntuk keadilan rakyat sekaligus orang tua kami. Karena mereka mencari materil dari tanah. Kami dianggap anakis dengan robohnya pagar Istana Faida.
 Kami  melakukan kebaikan dan menunggu kebaikan hati dari beliau pula. Beliau tidak dapat hadir dan kami pun gusar dalam menyengatnya panas matahari. Sebelumnya kami pun melakukan demo dan nihill hasilnya. Kesabaran memang tidak ada batasnya namun harus dibatasi. Setelah itu kami membuat pagar tangan  dan menerobos masuk. Media berkoar nantinya dan akan lebih menyalahkan Mahasiswa dan tentunya pro pemerintah.
                Biarlah kami dianggap anarkis. Bapak, Ibu, dan tetangga menyalahkan kita dan menganggap kita bersalah. Namun tetap saja mengikuti prinsipku. Semua hal yang terjadi pada hal selanjutnya kami tidak akan pernah berhenti melanjutkannya. Mereka hanya tidak tahu esensinya dari apa yang kami unjuk rasa kan. Media memengaruhi pola pikir mereka dan mereka akan menolak juga ketika RUU direalisasikan. Salim Kancil dan Tossan menunjukkan sedikit dari contoh dari perealisasian RUU tersebut. Ini untukmu Bapak, Ibu, dan Tetangga serta semua rakyat Indonesia. Biarlah kami dianggap pamer muka oleh teman kita, tidak mengetahui isi  dan taqlid tanpa dasar. Kekuatan kami dibutuhkan karena semakin banyak kuantitasnya akan lebih menakutkan pada tirani. Lebih buruk mereka tidak mengetahui permasalahan negeri dan tidak mau ikut memperjuangkan membenarkannya,
“Bunda relakan darah juang kami. Padamu kami mengabdi”
 (Mars PMII)
“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
 Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
 Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!.”
 (Widji Tukul)